Enam Tim Akan Bersaing Di Premier League

Enam Tim Akan Bersaing Di Premier League Fakta bahwa dominasi Big Four itu terusik sudah terlihat dalam dua musim belakangan, di mana Tottenham Hotspur dan Manchester City tampil menyeruak. Spurs dan City bergantian duduk di zona empat besar pada akhir musim, bak merusak formasi yang lazim terlihat di zona tersebut: Manchester United, Chelsea, Arsenal, dan Liverpool.

“Anda melihat enam tim tertatas bertarung untuk memperebutkan posisi empat besar dan itu hanya akan membuat Premier League bertambah menarik,” ujar Sir Alex beberapa waktu lalu.

Pria asal Skotlandia itu berkaca dari banyaknya poin yang terbuang dari para penghuni papan atas musim kemarin. MU sendiri menjadi juara dengan 10 hasil imbang di tangan. Artinya, potensi kehilangan poin bukan hanya ada pada laga-laga melawan sesama tim papan atas, tetapi juga dari tim mana pun di Premier League.

Lalu, bagaimana kondisi The Red Devils jelang dimulainya musim baru? Ada sebuah masa transisi di Old Trafford. Para senior yang selama ini menjadi penyokong moral tim, Gary Neville, Edwin Van der Sar, dan Paul Scholes sudah pensiun, Wes Brown dan John O’Shea hengkang sehingga tinggal menyisakan Ryan Giggs.

Kemudian muncul gembar-gembor bahwa MU bakal mencari pengganti Scholes dan orang yang tepat untuk itu adalah Wesley Sneijder. Sejauh ini, kabar seputar Sneijder masih berbau spekulasi. Sir Alex sendiri pernah membantah soal kedatangan gelandang asal Belanda itu–dan tampak siap dengan skuad yang dimilikinya sekarang–, meski ada pendapat yang bilang bahwa itu hanya strategi transfer dari sang manajer.

Seusai menang atas City di Community Shield, Minggu (7/8/2011), pria yang sudah memimpin MU lebih dari dua dekade itu memuji habis beberapa pemain mudanya. Nama-nama seperti Tom Cleverley, Phil Jones, dan Chris Smalling disebut-sebut olehnya seraya menekankan harapan lebih pada Cleverley dan Jones. Bisa jadi, ini adalah jawaban atas peralihan masa di Old Trafford.

MU kini tak lagi sendiri meramaikan kota Manchester. City, yang sebenarnya selama ini lebih dominan untuk urusan suporter di kota Manchester, sudah menunjukkan sinyalemen untuk bangkit. Indikasinya apalagi kalau bukan trofi Piala FA musim lalu dan melaju ke Liga Champions. Patut diingat juga bahwa dalam perjalanannya mengangkat trofi Piala FA, City menundukkan MU di semifinal.

Satu trofi di kantong membuat beban Roberto Mancini terangkat, tinggal bagaimana ia menghadapi tantangan selanjutnya: Liga Champions dan Premier League itu sendiri. The Citizens punya skuad yang tidak bisa dibilang jelek. Meski Carlos Tevez masih dispekulasikan masa depannya, mereka masih punya Sergio Aguero dan Edin Dzeko, pria yang pernah sangat tajam di Liga Jerman, di lini depan. Di tengah, duet Yaya Toure dan Nigel De Jong tampak seperti karang, kendati City tak bisa menyangkal akan kebutuhan seorang pengatur permainan.

Di seberang kota Manchester, ada Liverpool. The Reds adalah raja Liga Inggris sebelum MU melangkahi perolehan gelar mereka musim lalu. Mereka adalah raksasa yang tertidur dan belum tahu kapan akan kembali bangun. Namun, Liverpool jelas sangat-sangat ingin mengembalikan kejayaan mereka seperti dulu lagi. Liverpool ingin menunjukkan kelas mereka, karena seperti yang banyak orang ketahui bahwa ‘kelas adalah permanen’.

Kenny Dalglish kini duduk di kursi manajer. Ketika Liverpool terakhir kali menjadi juara Liga Inggris, Dalglish jugalah orang yang berada di kursi manajer. Kedatangannya banyak diakui pemain memunculkan atmosfer baru dengan nuansa positif. Ditambah dukungan penuh dari pemilik baru klub, John W. Henry, Liverpool mulai membangun skuad. Kedalaman skuad dicari dan para pemain yang dinilai tak berkontribusi maksimal perlahan-lahan dilego.

Jauh lebih ke Selatan, di London, Chelsea tengah merasa terluka lantaran nihil trofi musim kemarin. Carlo Ancelotti didepak, Andre Villas-Boas yang sukses besar bersama FC Porto musim lalu didatangkan. Di sebelah Villas-Boas, duduk mantan pemain Chelsea, Roberto Di Matteo, sebagai asisten. The Blues ingin timnya ditangani dengan baik oleh mereka yang jago meracik taktik dan memahami karakter tim dari dalam.

Villas-Boas kini tengah menghadapi kenyataan bahwa beberapa bintang Chelsea seperti Didier Drogba, John Terry, Frank Lampard, dan Florent Malouda sudah memasuki usia kepala tiga. Mereka menua. Tapi, Villas-Boas mengaku tak khawatir. Ia siap merotasi para pemain bintangnya dengan para pemain muda semodel Josh McEarchran dan Daniel Sturridge. Nama terakhir sudah menunjukkan ketajaman kala dipinjamkan ke Bolton di paruh kedua musim lalu. Catatan delapan gol dari 12 gol yang diciptakannya di Bolton bahkan membuatnya lebih tajam dari Fernando Torres yang hanya mencetak satu gol di paruh kedua musim.

Bagaimana dengan Arsenal? Persiapan mereka selama pra-musim banyak diganggu isu bakal hengkangnya para pemain bintang seperti Cesc Fabregas dan Samir Nasri. Kabar soal Nasri perlahan-lahan meredup, tapi tidak dengan Fabregas. Kabar mengenai ketertarikan Barcelona sudah berlangsung sejak dua musim terakhir dan memuncak pada musim panas ini.

Fabregas pernah mengritik Arsene Wenger, yang gagal memberikan trofi sejak 2005, disebutnya sudah pasti akan dipecat jika melatih di Spanyol. Wenger memang masih membelanya, tapi sejak saat itu Fabregas disebut-sebut tak lagi betah di Arsenal. Banyak yang berpendapat supaya Fabregas dijual saja demi kelanggengan tim, tapi nyatanya sang kapten kini masih bertahan. Kabar lain menyebut, Arsenal hanya mau melepasnya dengan harga yang mereka rasa pas.

Di luar isu Fabregas, Arsenal masih bermasalah di lini pertahanan, seperti apa yang mereka derita musim lalu–di mana mereka kebobolan 43 gol sepanjang musim. Satu-satunya bek yang berhasil didatangkan barulah Carl Jenkinson dan Wenger berjanji untuk mendatangkan satu bek lagi. Di lini depan, The Professor tampak puas dengan performa Gervinho yang memang terlihat nyetel dengan gaya permainan cepat Arsenal.

Terakhir ada kuda hitam yang juga merupakan rival Arsenal di London Utara, yakni Tottenham. Harry Redknapp sudah meminta kepada chairman Daniel Levy untuk mendatangkan banyak pemain kelas satu, namun yang ada ia malah terganggu dengan kabar pendekatan tim lain terhadap Luka Modric.

Redknapp mati-matian mempertahankan salah satu pemain andalannya itu sembari berharap bisa mendatangkan satu atau dua pemain lagi untuk memperkuat skuadnya. Di sisi lain, ia juga tak puas dengan hanya menempati posisi lima musim lalu. Redknapp ingin The Lilywhites kembali ke zona empat besar. Konsekuensinya, ia pun memutuskan untuk “membuang” ajang Liga Europa.